Memuat waktu...
Penerimaan Santri Baru Pondok Modern Darul Birri TP 2026/2027 Telah Dibuka! — Daftar Sekarang!
Tutup ✕
Kategori
Artikel Berita

Abuya Uci Cilongok – Ulama Banten yang Menginspirasi Dunia Pesantren

Mengenal Abuya Uci Cilongok, Penerang Umat dari Bumi Banten

Makam Abuya Uci Turtusi di Cilongok Banten
MAKAM ABUYA UCI TURTUSI CILONGOK

Nama Abuya Uci Cilongok sudah lama hadir di hati masyarakat Muslim Indonesia. Seluruh hidupnya, beliau curahkan untuk ilmu, dakwah, dan pendidikan Islam. Bahkan ribuan santri, wali murid, dan kaum Muslimin dari berbagai penjuru negeri kini rutin berziarah ke makam beliau di Cilongok, Pandeglang, Banten.

Selain dikenal sebagai ulama yang alim, beliau juga terkenal dengan kesederhanaan dan ketulusan hatinya. Tentu saja, di tengah arus modernisasi yang deras, sosok seperti Abuya Uci Cilongok menjadi pengingat yang sangat berharga. Mengenal beliau bukan sekadar mengenal sejarah. Lebih dari itu, kita menyelami lautan keteladanan yang masih relevan hingga hari ini.

Oleh karena itu, Pondok Pesantren Darul Birri menulis artikel ini sebagai bagian dari program Ziarah Menyambut Ramadhan 1447 H. Semoga artikel ini menjadi bekal spiritual sebelum rombongan bertolak menuju makam beliau di Cilongok.

“Ziarah bukan hanya perjalanan fisik menuju sebuah makam. Ia adalah perjalanan hati untuk mengambil pelajaran dari mereka yang lebih dulu berjalan dalam ketaatan kepada Allah.”

Biografi Singkat Abuya Uci Turtusi

KH. Uci Turtusi lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren di wilayah Banten. Sejak kecil, beliau menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam menuntut ilmu agama. Selanjutnya, beliau menempuh perjalanan panjang ke berbagai pesantren besar di Jawa. Di sana, beliau berguru langsung kepada para ulama terkemuka dan memperoleh sanad ilmu yang mulia.

Setelah menyelesaikan perjalanan menimba ilmunya, beliau kembali ke Banten. Kemudian, beliau mendirikan pesantren di Cilongok dan mengabdikan sisa usianya untuk mengajar dan membimbing santri. Bahkan di usia senja pun, majelis ilmu beliau tidak pernah sepi. Antrian panjang murid yang ingin mengaji langsung kepada beliau menjadi pemandangan sehari-hari.

Namun, kedalaman ilmu bukan satu-satunya keistimewaan Abuya Uci. Beliau juga menjaga akhlak mulia dan gaya hidup sederhana sepanjang hayatnya. Singkatnya, bagi santri dan masyarakat sekitar, beliau adalah guru sekaligus suri teladan sejati. Beliau mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab hanya menjadi beban, bukan cahaya.

Baca juga:  Scout Olympiade : Mengasah Keterampilan Pramuka dalam Bingkai Islami

Sanad Keilmuan yang Tersambung dan Terpercaya

Salah satu keistimewaan Abuya Uci Cilongok terletak pada sanad keilmuannya yang bersambung. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan sekadar daftar nama guru yang tersusun rapi. Lebih dari itu, sanad adalah jaminan otentisitas ilmu yang terjaga dari generasi ke generasi.

Abuya Uci berguru kepada sejumlah ulama besar yang sanadnya tersambung ke ulama Haramain. Dengan demikian, mata rantai keilmuannya terhubung hingga ke Rasulullah ﷺ. Ini menempatkan beliau dalam posisi yang sangat mulia dalam dunia keilmuan Islam Indonesia.

“Ilmu yang bersanad adalah ilmu yang hidup. Ia bukan sekadar teks dalam kitab. Ia adalah ruh yang berpindah dari dada guru ke dada murid, lintas zaman dan generasi.”

Pesantren Cilongok: Pusat Ilmu di Jantung Banten

Abuya Uci mendirikan pesantren di Cilongok, Pandeglang, Banten. Hingga kini, pesantren itu berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang paling disegani di wilayah Banten. Ribuan alumninya tersebar ke seluruh Indonesia. Mereka kini aktif sebagai ustadz, da’i, dan tokoh masyarakat yang membawa nilai-nilai Islam yang lurus.

Di pesantren Cilongok, para santri mendalami kitab kuning klasik secara intensif. Selain itu, pembentukan akhlak menjadi fokus utama dalam keseharian mereka. Para santri belajar fiqih, nahwu, dan balaghah. Di samping itu, mereka juga melatih kedisiplinan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat.

Oleh karena itu, warisan pesantren ini sejalan dengan visi Kementerian Agama RI dalam memperkuat pendidikan berbasis pesantren. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Pesantren adalah laboratorium peradaban Islam yang hidup dan terus bergerak.

Santri dan ustadz Darul Birri ziarah ke makam Abuya Uci Cilongok

Makna Ziarah ke Makam Abuya Uci Cilongok

Islam menganjurkan ziarah kubur sebagai sarana mengingat kematian. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan anjuran ini dalam berbagai hadits yang shahih. Selain itu, berziarah ke makam para ulama membawa dimensi spiritual yang lebih dalam. Bahkan, ziarah juga menjadi media yang kuat untuk mengambil ibrah dari kehidupan orang-orang shalih.

Baca juga:  Semarak Upacara Bendera 17 Agustusan di Darul Birri

Tentu saja, para peziarah datang ke makam Abuya Uci bukan karena mitos atau kepercayaan yang menyimpang. Namun, mereka datang karena cinta yang tulus kepada ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk umat. Setiap peziarah yang datang dengan niat lurus, insyaAllah akan pulang dengan hati yang lebih bersih dan semangat yang baru.

Terlebih lagi, ziarah menjelang Ramadhan memiliki makna yang sangat istimewa. Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan jiwa. Oleh karena itu, mengawali Ramadhan dengan ziarah adalah cara yang indah untuk mempersiapkan hati. Para ulama selalu mengisi Ramadhan mereka dengan ibadah, ilmu, dan pengabdian. Kita pun perlu meniru semangat itu.

“Mendekati Ramadhan dengan berziarah kepada para ulama adalah cara indah mempersiapkan hati. Cahaya bulan suci pun akan lebih terang memancar dalam jiwa yang sudah bersih.”

Keteladanan Abuya Uci untuk Santri dan Wali Murid

Bagi para santri Darul Birri, mengenal Abuya Uci Cilongok adalah bagian penting dari pendidikan karakter Islam. Beliau membuktikan bahwa seorang penuntut ilmu sejati tidak pernah berhenti belajar. Tidak juga berhenti mengajar. Lebih dari itu, beliau tidak pernah berhenti berkhidmat kepada umat hingga akhir hayatnya.

Sementara itu, bagi para wali murid dan orang tua calon santri, sosok Abuya Uci mengajarkan satu hal penting. Memilih lingkungan pendidikan harus mempertimbangkan akar keilmuan yang kuat. Selain itu, menitipkan anak ke pesantren bukan hanya soal nilai akademik. Ini adalah investasi akhirat. Ini tentang menanamkan fondasi iman, ilmu, dan adab yang menjadi bekal seumur hidup.

Dengan semangat itulah, Pondok Pesantren Darul Birri terus membangun generasi Muslim yang berilmu dan berakhlak. Program ziarah ke makam Abuya Uci adalah salah satu bukti nyata komitmen itu. Pondok aktif menanamkan kecintaan kepada ulama dalam jiwa setiap santri.

Baca juga:  Listrik dari Lemon? Santri Darul Birri Buktikan dengan Lampu LED!
rombongan ziarah santri putri pondok modern darul birri di cilongok

Ziarah Darul Birri: Menyambut Ramadhan 1447 H

Dalam rangka menyambut Ramadhan 1447 H, Pondok Pesantren Darul Birri menggelar program Ziarah ke Makam Abuya Uci Cilongok. Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi tarbiyah ruhiyah pondok. Setiap tahun, pondok menyelenggarakan pembinaan spiritual sebagai persiapan memasuki bulan suci.

Para asatidz mendapat undangan khusus untuk turut serta dalam rombongan ziarah ini. Selain itu, para santriwati juga ikut serta sebagai bentuk penghormatan kepada ulama. Dengan begitu, kebersamaan dalam perjalanan menuju makam Abuya Uci menjadi momentum muhasabah bersama. Semua anggota pondok saling menguatkan niat untuk memanfaatkan Ramadhan sebaik-baiknya.

Adapun lokasi makam Abuya Uci dapat dikunjungi melalui Google Maps – Makam Abuya Uci Cilongok. Rombongan pondok berangkat pada Senin, 16 Februari 2026 pukul 16.00 WIB. Titik kumpul di Cilongok pukul 16.30 WIB.

rombongan ziarah santri putra di cilongok

Tips Ziarah yang Bermakna dan Sesuai Sunnah

Agar ziarah kubur memberi manfaat maksimal, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Pertama, luruskan niat. Kita datang untuk mengambil ibrah, mendoakan almarhum, dan mengingat kematian. Bukan untuk meminta sesuatu kepada yang sudah wafat.
  • Selanjutnya, kenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Mengunjungi makam seorang ulama besar menuntut adab yang tinggi.
  • Kemudian, ucapkan salam kepada penghuni kubur. Bacakan Al-Fatihah dan doa sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
  • Selain itu, jaga ketenangan dan kekhusyukan. Hindari gaduh dan aktivitas yang tidak sesuai di area pemakaman.
  • Terakhir, manfaatkan ketenangan untuk bermuhasabah. Renungkan tujuan hidup dan kualitas ibadah kita selama ini.

Penutup: Mewarisi Semangat Sang Ulama

Memang, Abuya Uci Cilongok sudah meninggalkan dunia ini. Namun demikian, warisan beliau terus hidup dalam diri para santrinya. Warisan itu juga hadir dalam kitab-kitab yang pernah beliau ajarkan. Bahkan, doa-doa yang terus mengalir dari mereka yang mencintai beliau pun menjadi bagian dari warisan abadi itu.

Dengan berziarah, kita seolah berkata kepada beliau: kami hadir, kami belajar, dan kami siap melanjutkan perjuangan. Itulah esensi ziarah yang sesungguhnya. Bukan sekadar kunjungan fisik, tetapi pernyataan komitmen spiritual.

Semoga program ziarah Darul Birri dalam menyambut Ramadhan 1447 H ini menjadi wasilah muhasabah diri. Semoga pula menjadi penguat ukhuwah dan persiapan hati yang paling indah. Informasi lengkap tentang kegiatan pondok tersedia di darulbirri.sch.id. Allahumma ballighna Ramadhan.

Daftarkan Putra/Putri Anda di Pondok Modern Darul Birri

Bagikan: