Di halaman STEAM Fair Pondok Modern Darul Birri, beberapa botol plastik bekas tersusun rapi di atas meja pameran. Bukan sampah, tapi bagian dari alat peraga. Sedotan menembus sisi-sisi botol dengan sudut tertentu, lalu air mengalir membentuk semburan kecil, naik turun tanpa bantuan listrik sedikit pun. Banyak pengunjung mengerumuni proyek STEAM air mancur mini karya santri Darul Birri ini, penasaran dengan cara kerjanya.

Proyek ini muncul dalam ajang STEAM Fair 2025 Pondok Modern Darul Birri. Tahun ini, timnya membuat air mancur mini yang unik sekaligus ramah lingkungan. Mereka tidak memakai pompa atau sumber listrik apa pun. Sebaliknya, mereka mengandalkan botol bekas, sedotan, dan sedikit pemahaman soal tekanan air.
“Kami cuma pakai botol bekas dan sedotan, tapi ternyata air bisa menyembur sendiri kalau posisinya pas.”
Siapa di Balik Proyek Ini
Annida Salsabila memimpin proyek air mancur mini ini, bersama tiga anggota tim lainnya: Zaura Ajyal Hufadziah, Zahra Mufidah, dan Syafa Salsabila. Mereka bukan sekadar menempel botol dan sedotan secara acak. Sebelum sampai ke bentuk final, tim ini melalui proses coba-gagal-coba lagi yang cukup panjang.
Menariknya, keempat santri ini awalnya tidak terlalu percaya diri dengan konsep fisika di balik proyek mereka. Namun, setelah beberapa kali diskusi dengan pembimbing, mereka mulai memahami bahwa logika sederhana bisa menjelaskan tekanan air: air akan mengalir dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan lebih rendah, dan posisi sedotan menentukan seberapa tinggi semburan yang muncul.
Selain jadi ajang pamer karya, Darul Birri memang merancang STEAM Fair sebagai ruang bagi santri untuk membuktikan bahwa sains bukan cuma teori di buku. Kalau Bapak/Ibu penasaran dengan konsep dasarnya, kami sudah membahasnya lebih lengkap di pengertian konsep STEAM di sekolah.
Kenapa Proyek Ini Dibuat
Tim Annida dan kawan-kawan tidak asal membuat air mancur untuk sekadar tampil menarik di pameran. Ada beberapa tujuan yang mereka pegang sejak awal:
- Mengenalkan konsep tekanan air dan hukum fisika dasar lewat contoh nyata yang bisa mereka sentuh langsung, bukan cuma rumus di papan tulis.
- Memanfaatkan barang bekas, sebagai bentuk kepedulian sederhana terhadap lingkungan.
- Melatih kreativitas dan keterampilan praktis santri di bidang STEAM, mulai dari merancang sampai menguji coba.
- Menanamkan kesadaran soal penggunaan sumber daya yang efisien, termasuk air dan bahan bekas yang selama ini banyak orang anggap sampah.
Dengan kata lain, proyek ini bukan cuma soal air mancur. Di baliknya, pembimbing sengaja merancang latihan berpikir ilmiah supaya santri terbiasa bertanya “kenapa” sebelum “bagaimana”.
Bagaimana Proses Pembuatannya
Prosesnya sebenarnya cukup sederhana, meski butuh beberapa kali percobaan sampai hasilnya stabil. Berikut tahapan yang tim ini lalui:
Persiapan alat dan bahan. Mereka menyiapkan botol plastik bekas, sedotan, air, dan beberapa bahan tambahan seperlunya. Tidak ada bahan mahal, semuanya barang yang biasanya berakhir di tempat sampah.
Membangun sistem air mancur. Tim melubangi botol pada titik-titik tertentu, lalu mengatur posisi sedotan sedemikian rupa agar aliran air membentuk efek semburan alami. Di tahap ini, mereka beberapa kali harus mengulang karena posisi sedotan yang kurang pas membuat air justru menetes, bukan menyembur.
Uji coba dan penyesuaian. Setelah rangkaian pertama jadi, mereka menyesuaikan tekanan air dan ketinggian botol agar semburan bisa berfungsi optimal. Percobaan ini yang paling banyak memakan waktu, karena setiap perubahan kecil pada posisi botol ternyata berpengaruh besar pada hasil akhir.
Menganalisis hasil. Terakhir, tim mengamati bagaimana perubahan tekanan dan desain memengaruhi tinggi semburan air, lalu mencatat pola yang mereka temukan sebagai bahan presentasi di STEAM Fair.
“Awalnya airnya cuma netes, bukan nyembur. Kami baru sadar posisi sedotannya yang salah, bukan botolnya.”
Hasil yang Mereka Dapatkan
Setelah beberapa kali uji coba, proyek ini akhirnya berhasil menghasilkan air mancur yang stabil, tanpa listrik dan tanpa pompa tambahan. Dari situ, tim Annida belajar satu hal penting: tekanan air dan gravitasi ternyata cukup untuk menciptakan inovasi sederhana yang menarik, asal mereka memahaminya dengan benar.
Konsep semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan STEAM. Contohnya, artikel proyek STEAM sederhana untuk kelas 1-6 SD dari FIP Unesa mengulas beberapa program pembelajaran sains di sekolah dasar yang juga memakai bahan bekas untuk mengenalkan konsep tekanan dan gaya dorong. Artinya, langkah yang santri Darul Birri lakukan ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran sains berbasis proyek yang memang terbukti efektif di berbagai jenjang pendidikan.
Bagi Darul Birri sendiri, proyek air mancur mini ini melengkapi rangkaian karya STEAM lain yang santri pernah pamerkan, seperti proyek roket botol pada STEAM Fair 2.0 di pesantren modern tahun sebelumnya. Keduanya sama-sama membuktikan bahwa fisika dasar jauh lebih mudah santri pahami kalau mereka pelajari lewat praktik langsung, dibanding sekadar menghafalnya dari buku.
Kenapa Proyek Seperti Ini Penting bagi Santri
Selain mengasah keterampilan berpikir kritis, proyek air mancur mini ini juga menanamkan nilai yang lebih dalam: pentingnya daur ulang dan pemanfaatan barang bekas untuk kepentingan yang bermanfaat. Islam sendiri mengajarkan agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan sumber daya, termasuk air. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27). Lewat proyek sesederhana ini, santri belajar bahwa hemat dan kreatif bisa berjalan beriringan, tanpa harus menunggu alat canggih.
Selain itu, kerja tim yang Annida, Zaura, Zahra, dan Syafa jalani juga melatih hal lain yang tidak kalah penting: kesabaran menghadapi kegagalan kecil sebelum akhirnya berhasil. Padahal, dalam banyak kasus, justru dari kegagalan itulah santri belajar paling banyak.
Penutup: Sains Kecil, Pelajaran Besar
Proyek STEAM air mancur mini dalam STEAM Fair 2025 ini menunjukkan bahwa santri bisa menerapkan ilmu sains dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, tanpa harus rumit. Dengan adanya proyek semacam ini, Pondok Modern Darul Birri terus konsisten menghadirkan pendidikan berbasis STEAM yang membumi, bukan sekadar teori di atas kertas.
Semoga karya kecil dari Annida dan timnya ini bisa mendorong lebih banyak santri untuk terus bereksperimen, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Karena begitulah cara sains sesungguhnya bekerja.
Tertarik Mendaftarkan Putra/Putri ke Pondok Modern Darul Birri?
Untuk Santri Putra:
Hubungi Ustadz Rifki via WhatsApp
Untuk Santri Putri:
Hubungi Ustadzah Eva via WhatsApp